Masuk bulan agustus, bulan musim perlombaan, dari lomba balap karung sampai lomba main gaple. Entah mengapa dari kecil saya kurang pede untuk ikut berlomba, sehingga jarang sekali ikut perlombaan, saya belum cukup sukses untuk membujuk hati saya bahwa ikut lomba untuk sekedar berpartisipasi, menang atau kalah urusan belakangan.
Bukan juga karena kurang tertarik dengan hadiahnya, tentu ada rasa bangga ketika pulang lomba dengan membawa bingkisan hadiah yang berisi pensil plus tiga lembar buku, atau berisi handuk dengan ukurang paling mini, atau kadang juga berisi kaos yang seperti saringan teh.
Sebenarnya bukan hanya di bulan agustus saja, di bulan bulan lainya pun, bahkan setiap hari, sering kita terjebak dalam perlombaan perlombaan yang melelahkan yang garis finishnya terus saja bergerak ke depan tidak ada habisnya, tau tau begitu sadar ternyata jatah umur kita sudah tidak bersisa.
Melihat kawan ganti kendaraan, panas, melihat rekan naik jabatan, emosi, melihat kawan anaknya naik peringkat, kebakaran jenggot, ujung ujungnya memaksakan diri untuk bisa mengejar, karena kemampuan tidak setakar akhirnya menggunakan cara cara yang tidak benar.
Ada juga yang sukses menjaga haluan untuk tetap berada di jalur yang benar, tapi menjadi stress karena kemampuan tidak sesuai dengan angan angan, bisa bersabar dalam menjalankan taat, tapi menjadi kemrungsung, emosi, nggersulo dalam meninggalkan maksiat.
Bukan tidak boleh punya cita cita, ambisi, obsesi, karena itu bagian dari fitrah manusia yang sudah didesain dari sononya dengan dibekali nafsu, tapi biar tidak jadi spaneng, jangan dalam meraihnya dianggap sebagai perlombaan, karena masing masing kita punya jalurnya" sendiri sendiri, punya kapasitas "mesin" dengan batas kecepatanya sendiri sendiri, tinggal mengasah ketrampilan "mengemudi", tidak perlu melihat kanan kiri, melihat kecepatan "mesin" orang lain.
Begitulah kalau diibaratkan sebagai berkendara, dengan kota Palembang misalnya sebagai tujuan atau cita citanya, yang dibutuhkan hanyalah fokus pada kecepatan kendaraan kita, agar bisa cepat dan selamat sampai tujuan, bukan dalam rangka ingin mendahului atau takut akan didahului.
Jika dalam perjalan ada yang menyalip tetaplah berfikir positif, mungkin mesinya lebih besar, atau pengemudinya lebih trampil, jangan lantas jadi kalap, dengan ugal ugalan berusaha keras untuk membalap, yang akhirnya malah mencelakakan diri sendiri.
Begitu juga kalau mendahului, jangan lantas menjadi tinggi hati menganggapnya sebagai prestasi yang harus diselebrasi, ini semata mata karena kecepatan yang terjaga, bukan tentang mengalahkan siapa siapa, atau mungkin orang lain memang sedang menahan diri, mengemudi dengan lebih hati hati.
Berkemudilah dengan tertib, patuhi rambu rambu halal haramnya, berjalan di lajur yang semestinya, jangan menjadi dzolim dengan menutup jalan orang lain yang berpotensi untuk melaju dengan lebih cepat.
Sempatkanlah selalu untuk rehat, menikmati hidangan bahagia, dengan syukur dan qona'ah sebagai resepnya.
Memang, perlombaan itu memang nikmat, pacuan adrenalinya membangkitkan semangat, tetapi hati hati karena bisa terlena, terlena dalam "at-takatsur", beradu banyak, beradu megah, yang tiada batas finishnya, baru tersadar ketika tiba di bibir "maqobir" pintu kubur, batas usia di dunia, dan tergagap gagap ketika dituntut jawab, "dari mana dan untuk apa semua itu dikumpulkan".
Wallahu a'lam.
Note:
Gambar hanya ilustrasi

Tambah jozzz
BalasHapus