Pagi tadi diserahi anak magang lagi, anak anak dari politeknik UNSRI, sebenarnya sudah agak mbleger ambil peran ini, tapi ya sudahlah, diniatkan saja sebagai amal jariah.
Sebenarnya sih agak wagu, la saya tidak pernah kuliah kok ngajari anak anak kuliahan. Mungkin inilah jawaban dari Tuhan atas cita cita saya waktu kecil untuk menjadi seorang guru.
Tapi seandainya waktu itu saya tahu bagaimana yang berlaku pada guru saat ini, mungkin cita cita itu bakal saya revisi, bagaimana tidak, julukan mulia sebagai " Pahlawan tanpa tanda jasa" yang sebenarnya sudah ngenes itu, saat ini semakin kehilangan maknanya.
Ini bukan tentang penghasilan yang memang sudah pas pasan, tapi lebih tentang penghormatan terhadap guru yang adalah seorang pahlawan yang sudah tidak ada lagi.
Selayaknya seorang pahlawan adalah ditaburi puja puji, atau sekurang kurangnya menjadi bahagia karena dikelilingi oleh doa doa. Tapi begitu melihat kondisi hari ini, jangankan pujian, yang ada caci maki rasan rasan kadang malah kriminalisasi, padahal di saat yang sama, dituntut untuk membidani generasi yang cerdas dan berbudi pekerti.
Apalagi di musim pandemi ini, dimana para guru tidak dapat bertatap muka secara langsung dengan muridnya, sehingga sebagian tugasnya harus dialihkan ke orang tua siswa, mulailah para orang tua menjadi lebih stress, ternyata mendidik buah hati mereka tidak semudah yang dibayangkan, tapi yang didapat adalah, posisi guru malah semakin tersudutkan. Bukan malah berpikir sebaliknya, menyadari betapa beratnya tugas seorang guru. Kalau mendidik satu orang anak saja sudah sebegitu berat apalagi mendidik anak satu kelas yang tingkat kemampuanya dalam menerima pelajaran berbeda beda. Seharusnya memunculkan apresiasi yang lebih tinggi terhadap profesi ini.
Satu hal yang membuat profesi guru menjadi kurang keren adalah "jenjang karirnya" yang stagnan, seorang guru tetap saja menjadi guru, di saat murid muridnya sudah melejit, mengembangkan diri dan berprestasi dibidang yang ia geluti. Seorang guru tetap jadi guru ketika muridnya sudah jadi profesor, seorang guru juga tetap jadi guru ketika muridnya jadi presiden. Hal inilah yang membuat jasa para guru seolah terlupakan.
Bulan romadhon kemarin ada beberapa kali mendampingi anak lanang ngaji online kitab "Sanatir", yang berisi tentang hikayat orang orang hebat ketika menuntut ilmu, dalam kitab tersebut terlihat sekali penghormatan terhadap posisi seorang guru sehingga ilmunya bisa bermanfaat. Sungguh sangat kontras dengan apa yang terjadi saat ini.
Berkaca pada diri, sungguh sudah kurang ajarnya diri ini, mengingat nama nama guru yang sudah sangat berjasa saja sangat susah, apalagi menyebutnya dalam setiap doa dan kiriman fatihah. Mungkin inilah salah satu penyebabnya kenapa ilmu yang sudah dipelajari seperti menguap begitu saja, konon lagi bisa diharapkan buahnya di alam barzah.
Semoga Allah selalu memberikat rahmatnya kepada guru guru kita, guru yang mengajarkan tulis baca, sehingga dengan itu kita bisa bisa menyerap beraneka macam ilmu, guru yang mengajarkan kita berhitung, sehingga kita mengenal apa itu rugi, apa itu untung, guru yang mengajar kita "a ba ta tsa", sehingga kita bisa mengumpulkan pahala dari setiap hurufnya.
Semoga pandemi ini bisa membuat kita menyadari betapa susahnya menjadi seorang guru, dan lebih bisa memberikan apresiasi, karena guru adalah pahlawan, yang jasanya melekat sampai akhir hayat.

Komentar
Posting Komentar