Sudah empat hari meninggalkan kebun untuk menyambut panggilan keluarga, meninggalkan kebun juga berarti berhenti dari kegiatan menulis, bukan karena terlalu sibuk dengan urusan keluarga, tapi karena selama tidak di kebun, HP dalam penguasaan anak anak, padahal HP jadul inilah yang selama ini menjadi satu satunya sarana untuk menulis.
Selama liburan kemarin, kami menghabiskan waktu untuk pulang ke pulau rimau, karena ada momen istimewa, setelah sekian tahun, kami berenam anak anak Bapak Khumaidy bisa berkumpul kembali, lengkap ke enam enamnya, kalau diingat ingat, seumur hidup sampai dengan sekarang, mungkin baru tiga atau empat kali kami betul betul bisa berkumpul, dan kesempatan berkumpul sebelumnya adalah 4 tahun lalu, ketika Bapak pergi haji.
Yang membuat kami susah berkumpul adalah kebiasaan kami untuk merantau, baik untuk keperluan mencari nafkah, maupun untuk keperluan menuntut ilmu.
Dulu waktu mau berangkat merantau ke jawa untuk menuntut ilmu, ketiga orang adek paling kecil belum lahir, dan baru lahir pada saat saya masih berada di perantauan yang selama 6 tahun tidak pernah pulang. Dan ketika saya pulang, kami juga belum bisa berkumpul karena adik nomer dua dan nomer tiga juga sedang berada di jawa dengan tugas yang sama, menuntut ilmu.
Tiga, empat tahun berikutnya ketika berturut turut adik kedua dan adik ketiga sudah pulang dari jawa, saya sudah keranjingan merantau untuk mencari kerja, dilanjutkan lagi dengan adek keempat dan adek kelima melanjutkan tradisi untuk merantau memuntut ilmu ke jawa, juga adek ketiga yang mengikuti jejak saya merantau untuk bekerja, bahkan perantauanya lebih jauh lagi, sampai ke negeri tetangga. Jadilah kami enam bersaudara yang susah sekali untuk bisa "bersatu".
Kebiasaan kami merantau, bisa jadi adalah warisan dari leluhur yang sudah tertanam menjadi semacam DNA, bagaimana tidak, Bapak adalah perantau dari jawa ke sumatra ikut program transmigrasi, Bapaknya bapak juga perantau, walaupun masih lokalan jawa timur, dari jombang merantau ke jember. Dari jalur Ibu, darah perantau juga deras mengalir, konon katanya Mbah buyut kami bukanlah orang asli jawa timur, tapi perantau dari banten, bahkan "pesarean" leluhur kami yang berada di tulung agung, dikenal orang dengan sebutan makam Mbah Banten.
Dan momen spesial tersebut, yang telah sukses mempersatukan kami adalah acara "ngunduh mantu", dari pernikahan adik ke empat kami M. Habibi yang pernikahanya lumayan dramatis agak agak tragis, efek dari wabah sialan ini.
Inilah sosok enam orang anak Bapak Khumaidy yang susah untuk dipersatukan itu, lengkap dengan eksistensi, karakter dan "laku tirakat" yang melatarbelakanginya:
1. Lukman Hakim Khumaidy
Iya, saya sendiri, tidak perlu banyak penjelasan, dari wajah saja sudah kelihatan bahwa saya anak tertua, Tuhan menyayangi dengan melahirkan saya duluan, jadi walaupun tidak banyak berfungsi dan berperan, tapi peran saya jelas, peran sebagai kakak tertua.
2. Umu Azizah Khumaidy.
Adek nomer dua ini adalah yang paling cerdas di antara kami berenam, juga yang kehidupan ekonominya paling mapan, di samping mapan juga sekaligus loman, jadi sering kami fungsikan sebagai mesin ATM jika sedang kepepet butuh utangan.
Profesinya sebagai birokrat sehingga banyak memberikan manfaat pada kami juga dulur dulur pulau rimau lainya jika sedang ada keperluan atau urusan dengan pemerintahan.
Kondisi mapannya saat ini mungkin juga buah dari tirakatnya dulu waktu sekolah yang tidak mudah, tumbuh di saat ekonomi keluarga yang sedang hancur hancuran, tiap kali ulangan semesteran harus pakai acara nangis nangis dulu karena tidak dapat nomer ujian, akibat nunggak sekian bulan iuran SPP karena kirimanya dari sumatra selalu telat.
Juga ketika merintis karier sebagai guru honor di SMP yang jaraknya lima kilo meter dari rumah, dengan ngonthel sepeda mini yang rantainya sering lepas. Hingga akhirnya lulus sebagai pegawai negeri di masa pemerintahan Gus Dur yang menjadi titik balik peruntunganya.
3. Uswatun Khasanah Khumaidy.
Adek yang nomor tiga ini adalah sosok pekerja keras yang sebenarnya, ibarat mainan, tenaganya menggunakan baterai alkaline yang tidak ada matinya, dalam banyak hal saya harus merasa iri dan kagum kepadanya.
Semangatnya luar biasa, dia telah sukses mengubah kepahitan, kekurangan, kekecewaan menjadi bahan bakar dengan oktan yang tinggi untuk mengejar dan meraih keberhasilan.
Juga kemauanya yang kuat, yang membuat dia berani mengambil langkah besar untuk menjadi pahlawan devisa di negeri jiran.
Salah satu hal yang membuat saya harus berterima kasih kepadanya, yaitu ketika menjadi mak comblang yang mempertemukan saya dengan wanita hebat yang sekarang menjadi ibu dari anak anak saya, mereka berdua berteman ketika sama sama menjadi pengajar di MTs swasta di pulau rimau.
4. Muhammad Habibi Khumaidy
Dalam reuni kali ini dialah yang menjadi bintangnya, karena berkumpulnya kami kali ini untuk menyambut kepulanganya beserta istri yang baru dinikahinya.
Prosesi pernikahanya yang berlangsung di masa pandemi ini adalah prosesi peenikahan yang paling unik diantara kami, akad nikah dilaksanakan di pondok pesantren tempai ia menuntut ilmu, tanpa didampingi oleh satu pun anggota keluarga dan kerabatnya, juga ketika diboyong ke keluarga mertuanya, betul betul sendirian, butuh mental yang cukup tangguh untuk bisa menjalaninya.
Perjalanan mental dan spiritualnya juga cukup kaya, sempat melintasi jalan yang melingkar, hingga membuat Bapak sangat cemas, jangan sampai trah bromocorah yang selama ini selalu dikikis, mendadak muncul dan menitis kepadanya, tapi Alhamdulillah akhirnya jalan melingkar itu kembali ke titik awalnya, setelah sembilan tahun digulowentah oleh Abah Habib Yahya Assegaf di pondok pesantren sunan jati agung pringsewu lampung.
Juga mudah mudahan adek ke empat ini adalah jawaban dari cita cita Bapak yang ingin punya anak yang "santri", yang ekspektasi itu telah gagal untuk saya penuhi.
5. Ahmad Siddik Khumaidy
Adek nomer empat ini agak berbeda, visinya luar biasa dan dibarengi dengan sikap yang kukuh untuk meraih cita citanya, selalu sukses menjawab keraguan kami dengan bukti bukti, contoh bukti yang paling kongkrit dan monumental adalah masjid di samping rumah kami, sebagai tukang anyaran, dia berani mendesain dan sekaligus mengeksekusi proyek pembangunan masjid yang modelnya tidak duanya di pulau rimau, bahkan mungkin di banyuasin.
Memilih untuk terlebih dahulu membangun kebun sebelum kuliah, agar setamat kuliah tidak kebingungan mencari kerja, dan dibuktikan dengan sukses meraih keduanya.
Waktu kuliah memilih jurusan teknik industri, bukan bercita cita agar terserap menjadi "kuli" di pasar tenaga kerja industri, tapi cita citanya lebih tinggi lagi, ingin membangun industrinya sendiri.
Saya terpaksa untuk tidak menyebutnya sebagai cita cita yang "gila", karena melihat yang sebelum sebelumnya, dia selalu sukses mewujudkan keinginan yang diyakininya.
6. Umi Saadah Khumaidy.
Adek bungsu ini adalah pendidik sejati yang selalu dicintai oleh murid muridnya, pernah mengabdi di SDIT Fathonah palembang, tidak butuh waktu lama, dedikasi dan totalitasnya dalam bekerja, sukses menarik perhatian yayasan dengan menawarinya untuk merintis cabang di lain kota, tapi tawaran itu ditolaknya.
Pernah juga mengabdi di SDIT Al Furqon palembang, tapi akhirnya lebih memilih untuk pulang kampung menemani orang tua yang sudah sepuh.
Sebagai anak bungsu, lazimnya adalah anak yang paling tuwuk "dikelomi" ibunya, tapi tidak dengan adek bungsu kami, di usia yang relatif dini sudah belajar mandiri dengan berpisah dengan ke dua oranh tuanya untuk tinggal bersama mbakyunya.
Inilah profil singkat "the khumaidys squad", sengaja ditulis dengan agak padat walaupun banyak sekali hal menarik yang layak untuk diungkap.
Tiga putri, generasi berikutnya dari Bani Khumaidy



Keren cak. Menginspirasi. Saya suku spirit ceritanya. Penuturannya juga mantul.
BalasHapusHahaha hanya ekspresi narsis dari keluarga yang ingin eksis๐๐๐
BalasHapuslakitan gk pernah di muncul kan hhh jek eling mbayar dp tanah kr sampean tp mungkin sampean ws lali
BalasHapusWaduh, sepuntene, betul betul nge blank ini, sepertinya memang membutuhkan bantuan agar bisa mengingatnya kembali๐๐๐
Hapus