SNS, Bangka, dan Kenangan Yang Tak Terlupakan


Pagi ini ditambahkan dalam WAG Keluarga besar SNS, ini sureprise sekali, karena kenangan selama di SNS menempati ruangan tersendiri dalam ingatan saya.

SNS itu singkatan dari Swarna Nusa Sentosa, sebuah perusahaan perkebunan dimana saya kerja dari tahun 2005 sd 2010, yang berlokasi di desa Malik Baru kecamatan Sungai Selan Bangka tengah.

Bergabung dengan SNS tepatnya bulan november 2005, sebuah langkah besar setelah sebelumnya resign dari PT Lonsum, untuk ukuran tahun 2005 dimana kondisi Lonsum masih sangat stabil, mengundurkan diri dari Lonsum adalah sebuah langkah yang lumayan gila.

Awalnya dapat info dari Pak Tomi Sugiri, sales engineer PT Nalco,  katanya ada lowongan untuk asisten lab di bangka, iseng iseng kirim CV, tidak lama kemudian ada yang menghubungi, Pak Sutrisno, beliau minta hadir untuk intervew di volcano cafe di PTC Palembang, setelah deal beberapa minggu kemudian saya berangkat ke bangka.

Sesampainya di lokasi saya ditempatkan di salah satu ruangan mess yang sebenarnya adalah bekas kantor lama yang diubah fungsinya menjadi mess.

Kesan pertama yang saya tangkap dari pulau bangka adalah alamnya yang indah dan orang orangnya yang ramah, hanya karena ditempatkan di perusahaan yang belum lama take over dari management lama ke management baru yang pada prosesnya menyisakan "ganjalan ganjalan", membuat komunikasi menjadi sedikit canggung di awal awal, tapi tidak butuh waktu lama keakraban sudah mulai terasa.

Proses adaptasi saya di SNS sangat terbantu oleh adanya orang orang baik yang sudah terlebih dahulu tinggal dan bekerja di sana, ada Pak Tugi, Pak Sigit, Pak Septiono, Pak Indra, Pak Sugeng, Bu Rosida, Pak Asan, Pak Kardono, Pak Daryo dan masih banyak lagi yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Hanya kemalasan dan kekurangajaran saya sajalah yang membuat belakangan ini komunikasi dan silaturahmi menjadi terputus.

Bekerja di bangka itu seperti bekerja di negri impian, banyak sekali tempat untuk membuang atau setidaknya mengalihkan kejenuhan, tidah harus menunggu hari minggu atau harus cuti untuk mencari hiburan ke pusat kota, atau menyegarkan pikiran dengan menikmati semilirnya angin pantai, semua masih dalam jarak dan waktu yang terjangkau untuk dinikmati selepas jam kerja. Juga karena wilayahnya yang sangat aman, sehingga jam berapapun kita pulang, tidak dihinggapi rasa was was akan dicegat atau dibegal orang di tengah jalan.

Bangka juga daerah yang penduduknya heterogen, multi etnis dan multi agama, tapi semua berjalan dengan hubungan yang sangat harmonis dan penuh kesetaraan, tidak ada yang merasa lebih superior atau sebaliknya menjadi inferior, tetapi tetap memegang teguh identitas masing masing.

Hal ini tercermin dari meriahnya setiap perayaan hari besar keagamaan, kalau di daerah lain hari besar islam yang betul betul dirayakan adalah idul fitri dan idul adha, tapi di bangka lebih dari itu, maulid nabi, tahun baru islam juga dirayakan dengan tidak kalah meriahnya, setiap rumah selalu menyiapkan makanan diatas meja, untuk menyambut handai taulan yang datang bertamu, seperti layaknya hari raya idul fitri. Warga yang non muslim pun tidak lupa ikut berpartisipasi dengan mengunjungi saudaranya yang muslim untuk memberikan ucapan selamat dan larut ke dalam kegembiraan. Begitu juga sebaliknya jika tiba masanya perayaan tahun baru, juga perayaan hari raya imlek.

Ada pengalaman sederhana tapi membuat saya sangat terkesan selama bekerja di SNS, yaitu ketika saling bertukar lauk/bontot, ketika istirahat siang, makan bersama di barak depan kantor. Sungguh kekeluargaanya sangat terasa dan sulit untuk mendapatkan momen seperti itu lagi, sampai sekarang saya belum pernah merasakan kerang rebus yang lebih nikmat dari kerang rebus yang saya makan dari bontotnya Pak Tanto.

Kalau akhirnya saya harus meninggalkan bangka, meninggalkan para sahabat dan kerabat, sungguh, alasanya bukan karena saya tidak merasa nyaman lagi tinggal di sana, tapi semata mata karena dua alasan. Alasan yang pertama adalah karena pada saat itu saya merasa ada sesuatu yang tidak benar yang tidak bisa dibiarkan, tapi saya belum mampu untuk melawanya. Kedua karena kondisi dan usia orang tua yang sudah sepuh, yang menuntut saya untuk sewaktu waktu harus pulang, dan itu tidak bisa saya lakukan jika tinggal di luar pulau.

Kadang saya berhayal dan berharap agar suatu saat bisa berkunjung ke sana lagi, atau bila perlu tinggal dan bekerja di pulau yang penuh kenangan itu lagi.

Komentar

  1. SNS Selalu di hati buat kita pak.
    Banyak kenangan yg tak bisa kita lupakan dalam suka dan duka..
    Teringat cerita Bidai pasti berlalu hehe

    BalasHapus
  2. Perjuangan siang dan malam 😊😊

    BalasHapus

Posting Komentar