Jum'at kemarin saya "kepergok" khutbah, tanpa persiapan begitu melihat papan pengumuman ternyata nama saya ada di jadwal khutbah hari itu. Sebenarnya sudah rutin setiap empat jum'at sekali, tapi mungkin karena kurang konsentrasi dan kurang perhatian, jadi lupa kalau jum'at itu sudah masuk lagi waktunya giliran.
Entah mengapa nama saya kok dimasukkan dalam daftar, padahal saya ini kurang pantes untuk jadi khotib, kurang pantes dari segi ilmu, juga kurang pantes dari segi "kelakuan".
Memang dulu sekolahnya di sekolah agama, tapi karena belajarnya setengah setengah tidak sampai khatam, ditambah lagi jarang mutholaah, hasilnya ya seperti ini, "mentah".
Karena sadar diri tidak cukup ilmu, akhirnya pasrah saja sama buku, buku kumpulan khutbah jum'at yang banyak dijual di toko buku, karena untuk menyusun teks sendiri, rasanya tidak cukup nyali karena kurangnya ngaji juga minimnya referensi.
Walaupun mengandalkan bahan dari buku, biasanya saya cukup selektif dengan memilih tema yang ringan ringan saja, yang saya memang sudah faham dan bisa menjalaninya, karena takut nanti termasuk orang yang "dijewer" Gusti Allah dalam "dawuhnya"
kaburo maktan indallohi an takuuluuna maa laa ta'maluun.
Juga saya menghindari tema yang mengupas kondisi sosial politik kekinian yang diteropong dengan "tafsir" keagamaan yang validitasnya masih perlu untuk dikaji lagi dengan memperbanyak sudut pandang dari banyak sisi.
Karena sudah terlanjur "kepergok", akhirnya pakai jurus lama, memilih tema sesuai daftar isi di bulan yang sedang berjalan, masuk bulan safar, salah satu tema yang ditawarkan adalah tentang khusyu' dan khudhu' dalam sholat. "Tema yang cukup ringan" pikir saya, karena membahas tentang ibadah yang sudah biasa dilakukan setiap hari.
Mukadimah berjalan dengan lancar, intonasi bisa saya kendalikan karena sudah lumayan terlatih dengan sering memberikan briefing di tempat kerja. Masuk ke pembahasan hati saya mulai agak was was, karena ternyata temanya sangat berat, mau ganti tema sepertinya sudah tanggung setengah jalan dan tidak memungkinkan untuk diganti lagi.
Diawali dengan mengutip pendapat sebagian ulama tentang masuknya khusyu' dalam wajibnya sholat, yang juga disertai dengan landasan dalil dan argumentasinya, hati saya mulai tidak nyaman, karena masih sangat jauh dari apa yang mampu saya kerjakan.
Kalimat kalimat yang terbaca selanjutnya seperti "menampari" muka sendiri, bagaimana tidak, dikisahkan tentang suasana hati para sahabat nabi ketika tiba waktu sholat. Tentang Sahabat Ali dan Sahabat Umar yang sampai gemetar, karena hendak menghadap Allah Yang Maha Besar.
Juga kisah yang diriwayatkan oleh Syayidah Aisyah, karena saking khusyu'nya para sahabat dalam sholat, sehingga seolah olah diantara mereka menjadi saling tidak mengenal.
Semakin "diblejeti" diri ini, ketika dikutip dawuh Kanjeng Nabi bahwa "Apa yang kita dapat dari sholat, tergantung dari apa yang kita pikirkan ketika melaksanakanya". Lha saya ini, ketika sholat masih suka mikirkan pekerjaan, mikirkan utang, mikirkan hari sabtu pingin pulang, mikirkan bagaimana membuat ending sebuah tulisan, terus apa yang saya dapat dari sholat saya?.
Juga ketika disebutkan tentang orang yang mencuri dalam sholat, yaitu orang yang mencuri ruku' dan mencuri sujud. Sementara ruku' dan sujud saya adalah ruku' dan sujud yang sangat kilat.
Tambah semakin malu saya ketika mendengar salah seorang jamaah "membik membik" sesenggukan ketika menyimak khutbah yang sedang disampaikan.
Astaghfirulloh, mugi Gusti Allah berkenan paring pengampunan.

Mabruk ya ustadzy
BalasHapusAamiin..., matur nuwun Yi,🙏🙏
Hapus