Mental "penjual"



Walaupun tidak sukses sukses amat, saya ini sebenarnya keturunan pedagang, ketika sedang berusaha bangkit dari masa masa sulit, ketika saya masih kecil dulu, berdagang adalah salah satu wasilah yang ditempuh oleh Bapak untuk keluar dari kondisi itu.


Berawal dari memelihara ayam, walaupun kondisi sedang sangat sulit, bapak tetap mempertahankan ayam peliharaanya untuk tidak dijual, sampai terkumpul delapan atau sepuluh ekor babon dan beberapa ekor pejantan, dengan masing masing beranak sekitar delapan ekor, total jumlah ayam yang dipelihara menjadi lumayan banyak, kolong rumah trans yang tingginya satu setengah meter itu sudah berubah fungsi menjadi kandang ayam.


Walaupun ayam yang dipelihara lumayan banyak, tapi tidak terlalu sulit dalam mencarikan pakan, di samping karena tegalanya yang luas, sehingga ayam dengan mudah mendaatkan makanan alami, cacing, semut, rayap juga serangga lainya mudah didapat dari lapukan kayu kayu bekas hutan waktu sebelum dibuka trans.


Juga karena sumber pakan lain yang mudah didapat, disamping dedak, sumber pakan pokok lainya adalah ubi parut atau sawut yang tersedia melimpah di tegalan, tinggal cabut barang satu atau dua batang, kemudian dikupas dan diparut, sebelum sempat sawut jatuh ke tanah,  ayam ayam itu sudah siap menyambut, kemriyek mengelilingi kaki. Itulah pekerjaan saya setiap sore waktu kelas lima SD.


Setelah ayam ayam itu tumbuh dengan berat yang optimal, kemudian Bapak membawa hampir seluruh ayam ayam itu ke pasar kalangan Penuguan yang buka hanya seminggu sekali setiap hari selasa, ayam ayam itu dijual, yang uangnya dipakai untuk kulakan barang dagangan berupa barang barang kebutuhan pokok, gula, garam, minyak tanah, minyak goreng, tembakau, ikan asin, dan kebutuhan pokok lainya.


Karena modalnya paspasan, jumlah barang yang dibeli hanya sedikit, walaupun ragamnya lumayan lengkap. Belum sampai putaran kalangan hari selasa berikutnya, sebagian barang dagangan sudah habis terjual, dan agar tidak membuat konsumen menjadi kecewa, Bapak mensiasatinya dengan kulakan ke warung warung sebelah, kemudian menjualnya kembali dengan harga yang sama dengan harga beli tanpa mengambil untung, sambil menunggu hari kalangan berikutnya untuk kulakan di pasar kalangan Penuguan.


Banyak strategi strategi dagang yang Bapak lakukan sehingga daganyanya cepat maju, setelah berjalan satu tahun, dari sebelumnya hanya belanja di pasar kalangan Penuguan, kemudian berkembang dengan belanja dengan jumlah yang lebih banyak lagi langsung dari palembang. Yang sebelumnya hanya belanja 5 kg gula per minggu, menjadi satu karung 50 kg, dari 15 liter minyak tanah per minggu, menjadi 1 drum, demikian juga barang barang dagangan yang lain, juga mengalami peningkatan.


Strategi lainya yang Bapak lakukan untuk mengikat pelanggan adalah dengan menggratiskan jika ada orang yang beli obat malam hari, mungkin dengan asumsi dalam kondisi waktu itu, jika ada orang yang malam hari beli obat, artinya orang itu sedang sangat butuh pertolongan.


Entah dari mana strategi strategi dagang itu Bapak dapatkan, karena setau saya sebagai orang yang tidak tamat SD, bapak tidak pernah belajar khusus tentang itu, juga tidak pernah magang kepada orang yang lebih berpengalaman.


Dalam banyak hal, saya gagal untuk mengikuti jejak Bapak, salah satunya ya itu tadi, kemampuan untuk menjual, bukan berarti saya juga mau berdagang, tidak, karena profesi yang saya tekuni bukanlah pedagang. Tapi di dalam kehidupan yang sarat kompetisi ini, kemampuan untuk "menjual" sangatlah penting, karena pada kenyataanya, banyak sekali orang orang yang potensial, menjadi tidak kelihatan potensinya, menjadi tertutupi, atau secara sistematis dan sengaja "ditutupi", karena tidak mempunyai kemampuan dan mental untuk "menjual" diri.


Memang di era teknologi informasi yang banyak menyajikan kemudahan ini, ada beberapa kasus dimana orang secara tidak sengaja "ditemukan" potensinya kemudian menjadi "viral" di media sosial, dan itu menjadi pintu untuk menuju ke kesuksesanya.


Tetapi mekanisme "ditemukan" ini tidak bisa menjadi andalan dan diharapkan oleh semua orang, karena sedikit sekali orang yang bisa mendapat keberuntungan itu, dan tentunya harus dengan potensi yang sangat unik sehingga bisa menarik perhatian orang dan menjadi "viral". Karena itulah kemampuan "menjual" menjadi sangat penting agar potensi yang kita miliki menjadi "diakui".


Atas pencapaian, dan apa yang sudah saya jalani sampai tahap ini, alhamdulillah saya diuntungkan oleh situasi situasi "ditemukan", bukan sepenuhnya hasil dari kerja keras dalam "menjual".


Tapi konyol dan aleman namanya kalau terus terusan menunggu untuk "ditemukan", dan celakanya, ketika stok keberuntungan sudah "habis", ketika keadaan sudah mengharuskan untuk "berjualan", mental saya belum sepenuhnya terbentuk, masih suka kikuk, minder dan ewuh pakewuh untuk "menjajakan" diri, sehingga sering kali peluang dan kesempatan terlewat begitu saja.


Saya tidak tau, ini sebenarnya adalah memang sudah dari "sana"nya sebagai bawaan badan atau karena kurangnya latihan, atau malah sebenarnya adalah anugrah, agar menjadi rem, agar tidak terlalu bernafsu dan menjadi tinggi hati. Karena bisa jadi, perasaan minder yang tumbuh itu sebenarnya adalah kerangkeng, yang memborgol bibit bibit kesombongan yang sewaktu waktu bisa tumbuh dan nggegirisi.


Komentar