Seperti cicak yang merayap di sudut dinding teras sebelah kiri, menunggu hinggapnya serangga yang menari nari mengitari bola lampu yang terpasang di atasnya. Tiba tiba gelap, lampu mati, serangga pergi, dan Cicak pun merana kehilangan mangsa.
Entah apa maksudnya kawanan semut itu bersarang di sana, di dalam kotak saklar yang membuat lampu tidak bisa dihidupkan lagi.
Walaupun terhubung dalam jaringan rantai makanan, dalam susunan strata antara predator dengan yang dimangsanya, tapi itu sudah bersifat alami, sebagai sunnah Tuhan yang sudah digariskan, jadi tidak mungkin karena dendam pribadi, yang membuat kawanan semut itu berkonspirasi, menghalangi sang cicak dalam mencari rizki.
Ada kelelawar nyasar masuk kamar, berputar putar mencari jalan keluar. Masuk dari lobang gelombang atap seng dan turun dari lobang pintu di sudut plafon.
Sesuai naluri yang sudah ditanamkan, atau mungking ajaran yang diwariskan, suasana gelap antara plafon dan atap, juga lobang masuk yang seperti gua, adalah tempat yang tepat untuk disinggahi. Jadi "Dimana salahnya?".
Bukan salahku juga kalau harus berhadapan dengan sabetan sapu karena sudah mengganggu, karena kata kata dan isyarat dengan membuka lebar lebar jendela tidak juga bisa kau pahami.
Banyak peristiwa yang terjadi karena memang harus terjadi, jadi apa lagi yang mesti diratapi.

Komentar
Posting Komentar