Mbolang Lagi #1

 


Jam 6 pagi pandu alam sudah ada di kapal, karena memang sudah direncanakan untuk berangkat sepagi mungkin, agar sebelum jam 5 sore sudah ada di gandus, agar masih ada waktu untuk ngolong jembatan.


Pandu alam adalah jasa kepanduan yang personelnya adalah para nahkoda lokal yang sudah faham betul dengan seluk beluk sungai musi, untuk kapal kapal yang datang dari luar palembang, biasanya menggunakan jasa mereka, untuk jaga jaga jangan sampai tiba tiba kapal kandas karena salah memilih alur sungai yang kurang dalam. Atau salah dalam membaca arus dan tikungan sehingga tiba tiba tongkang yang ditariknya nyasar dan menghantam jaring atau pemukiman penduduk yang berada di sepanjang pinggiran sungai.


Sebagai orang lokal, pandu alam juga bisa membantu jika ada insiden atau gangguan sosial juga bantuan jasa keamanan.


Karena pengurusan dokumen yang berlarut larut, sehingga tongkang baru bisa berangkat jam 09.00, dan tidak memungkinkan lagi untuk mengejar waktu agar bisa ngolong jembatan. Akhirnya tongkang melaju dengan kecepatan sedang, malah cenderung lambat.


Walaupun bukan pertama kalinya menyusuri sungai musi sampai ke palembang, tapi saya belum sepenuhnya hafal daerah daerah yang dilewati, ada beberapa yang seolah itu baru pertama kali saya temui.


Salah satu daerah yang menarik hati saya adalah daerah muara belida, tau nama daerahnya muara belida dari papan nama puskesmas nya yang menghadap langsung ke sungai musi. 


Satu yang menarik dari daerah itu adalah ternyata disitu ada pabrik sawitnya juga, tapi sayang sekali pabriknya seperti pabrik mati, tidak terawat dan sepertinya tidak dioperasikan lagi.


Sampai gandus (daerah pinggiran palembang) hari sudah jam 9 malam, karena sudah tidak memungkinkan lagi untuk ngolong akhirnya tongkang lego jangkar di gandus. 


Dari pengamatan kiri dan kanan, sepertinya tidak banyak tongkang yang lego jangkar, hanya ada dua tongkang batubara yang sudah bermuatan, selebihnya adalah tongkang tongkang kosong yang rutenya tidak mungkin menuju keluar. Dari situ menjadi besar harapan, bahwa besok pagi, untuk ngolong jembatan, tidak harus banyak menunggu antrian.


Sampai dengan tengah malam, sepertinya keadaan bakal aman aman saja, memang dari awak tongkang sudah ditugaskan untuk bergantian piket jaga, tapi mungkin karena kecapean saat pengisian, akhirnya semua terlelap juga.


Sampai akhirnya, "duar..!!", semua terkejut oleh suara keras lemparan benda padat mengenai dinding tongkang, diiringi dengan suara teriakan orang meracau mengusir kami agar tidak berlabuh di tempat ini, orang itu terus saja meracau sambil mengelilingi tongkang kami.


Kemudian datang dua orang lagi, sepertinya orangnya Pak Gondrong, koordinator pandu alam, yang juga dipasrahi untuk memberikan jasa pengamanan ke tongkang kami.


Melihat dua orang lagi datang sambil memain mainkan kelewang, akhirnya si peracau itupun mundur teratur dan pergi, tapi tidak serta merta membuat racauanya seketika menjadi berhenti. Dan sampai menjelang pagi dua orang itu terus berjaga, tapi tidak juga membuat hati menjadi lega, membayangkan kelewang yang terus terusan dimainkan.


Pagi pagi si peracau datang lagi, meneruskan racauanya malam tadi, dan kali ini sambil memamerkan kelewangnya juga, tapi tidak kami perdulikan lagi, karena kami memang sudah bersiap untuk pergi.


Ada yang menarik dari si peracau dan dua orang penjaga, ternyata nama yang tertulis pada lambung perahu yang mereka kendarai sama, hanya bentuk dan ukuran perahunya saja yang beda, mungkin sebenarnya mereka tergabung dalam satu kelompok yang sama, tapi karena pembagian "rizkinya" yang tidak rata, sehingga terjadi perselisihan dan menghadirkan ketegangan.


Komentar