Menyusuri sungai musi dari palembang hingga muara, membangkitkan kenangan ketika masih kerja di pulau bangka 12 tahun yang lalu, ketika itu setiap kali pulang kampung atau berangkat ke tempat kerja, selalu menyusuri rute ini.
Biasanya setiap kali pulang kampung ke pulau rimau atau sebaliknya berangkat kerja ke bangka, lebih sering saya jalani via laut dengan menggunakan jasa kapal cepat atau jetfoil, hanya beberapa kali saja, itupun sudah menjelang berhenti kerja pulangnya dengan naik pesawat dari pangkal pinang menuju palembang.
Perjalanan jetfoil dari pelabuhan boombaru palembang menuju pelabuhan tanjung kalian muntok, biasanya memakan waktu tempuh sekitar tiga setengah jam.
Waktu terlamanya bukan pada saat menyeberangi selat bangka, tapi justru pada saat menyusuri sungai musi dari palembang sampai ke muara.
Disamping karena jarak tempuhnya yang lebih jauh, juga karena di saat menyusuri sungai musi jetfoil tidak bisa melaju dengan kecepatan penuh.
Lambatnya laju jetfoil disebabkan karena lalulintas di sungai musi yang lumayan padat, juga karena jika melaju dengan kecepatan penuh, gelombang yang ditimbulkan akan mengganggu rumah rumah penduduk yang mengapung di sepanjang pinggiran sungai musi.
Dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi, kita sebagai penumpang jadi punya kesempatan untuk mengamati sepanjang pinggir sungai.
Setelah melewati wilayah sungai lais dan prajen, atau setelah keluar dari wilayah kotamadya, praktis tidak ada lagi wilayah pemukiman yang cukup padat dan ramai, kalaupun ada sudah sangat jauh ketika memasuki daerah upang dan baru ketemu daerah padat penduduk lagi di daerah sungsang yang sudah berada di bibir muara.
Yang ada hanyalah koloni pemukiman pemukiman yang tidak terlalu ramai, juga sesekali ada bangunan pabrik pengolahan kayu atau pabrik pengolahan kelapa.
Sayang sekali perjalanan kali sudah sore dan hampir gelap, sehingga tidak bisa mengamati perubahan yang terjadi setelah 12 tahun tidak pernah lagi melintasi sungai musi hingga ke muara.
Walaupun sepanjang perjalanan malam ini pemandanganya didominasi oleh gelap gulita, tapi mata tetap harus harus terjaga, karena menurut penuturan para awak tongkang, rute antara palembang sampai selat bangka adalah rute yang cukup rawan.
Semoga stamina tetap terjaga, untuk melanjutkan rute perjalanan berikutnya.

Komentar
Posting Komentar