Subuhku hampir telat, mungkin karena begadang hampir sepanjang malam, membuat pagi ini terbangun hari sudah menjelang terang, sejenak mengintip ke luar jendela, pemandangan sudah berubah, air di sekeliling sudah tidak lagi keruh, ciri khas air sungai yang sudah mendekati muara, tetapi berganti dengan air yang jernih membiru, dengan hamparan air yang hampir tidak terlihat lagi ujungnya. Ah, sepertinya tongkang sudah meninggalkan sungai musi, tapi sudah memasuki selat bangka.
Cucaca hari ini sangat bersahabat, hari tidak terik, malah cenderung mendung dan matahari hanya sesekali menampakkan sinarnya, tapi tidak juga hujan. Angin tenggara bertiup cukup kuat dari arah depan sebelah kiri, tapi tidak sampai menimbulkan gelombang yang terlalu tinggi, hanya gelombang gelombang sedang yang membuat tongkang seperti melompat lompat kecil dengan ritmis, seperti lompatan olahragawan yang sedang bermain skiping dengan santai.
Sudah lama tidak melintasi laut, suasananya yang luar biasa membuat hati seperti tidak rela untuk meninggalkanya menuju tempat tidur, walaupun beberapa hari ini mata sudah sangat lelah karena melewatkan sebagian besar waktu dengan terjaga.
Selat bangka adalah jalur pelayaran yang cukup ramai, sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang, di hamparan laut yang cukup luas, belum pernah tongkang kami berjalan sendirian, selalu ada saja di depan atau belakang, tongkang atau kapal lain yang terlihat.
Barisan tongkang dan kapal tugboat itu, mungkin kalau dilihat dari pantauan udara, miri seperti barisan Gery (siput peliharaan spongebob) beserta para rivalnya ketika sedang di lintasan balapan keong. Hanya bedanya keongnya sambil menarik beban, yaitu tongkang. Jadi bisa dibanyangkan betapa lambatnya, jadi membanyangkan ekspresi suporternya yang digambarkan di film kartun, ketika keong jagoanya hampir mencapai garis finish, tapi ternyata waktunya masih lama sekali.
Hampir seharian kuhabiskan waktu berdiri di haluan tongkang, menikmati suara deburan air yang menghantam bagian depan tongkang, juga riak dan buih yang ditimbulkanya, menghadirkan sensasi tersendiri, mungkin karena itulah Rose dan kekasihnya di film Titanic banyak menghabiskan waktu di bagian sana.
Seharian ini tidak bisa tidur, mungkin efek kopi yang dihidangkan oleh awak tongkang, membuat mata seperti terganjal setiap kali ingin dipejamkan.
Di tongkang kami ada lima orang, tiga orang awak tongkang dan dua orang tamu. Kepala regu di tongkang disebut cincu dengan dua anak buah.
Cincu kami masih muda, bujangan katanya, beliau adalah orang kalimantan, ibunya orang sampit sedangkan bapaknya perantauan dari banyuwangi.
Logatnya sehari hari ringan dan lancar, mungkin seperti itulah logatnya orang kalimantan, tapi begitu video call dengan pacarnya yang orang nganjuk, bahasa jawa timuranya langsung mengalir dengan kental.
Dua anak buahnya masih baru, masih pelayaran perdana di tongkang ini, yang satu pindahan dari kapal penangkap ikan, satu lagi mahasiswa praktek dari sekolah pelayaran.
Tamu yang satunya lagi adalah surveyor, orang pontianak, tapi wajahnya sedikit kearab araban, ternyata ayahnya orang bugis dan ibunya adalah syarifah bermarga al qodri, masih kerabat satu marga dengan sultan pontianak yang pahlawan nasional itu, Sultan Hamid Al Qodri.
Beliau adalah orang yang sarat pengalaman naik turun tongkang, tapi untuk tongkang yang ini, beliau baru pertama kali.
Jadilah kami berlima orang yang sama sama baru saling kenal, tapi cepat menjadi akrab karena berkumpul setiap saat.
Sampai menjelang malam perjalanan sangat lancar, tugboat kami sukses menarik tongkang dengan kecepatan yang lumayan tinggi, hingga sukses menyusul dan mendahului dua tongkang yang ada di depanya, tongkang pertamina dan tongkang batubara.
Hingga jam 11 malam ketika mata baru saja terpejam, di titik paling sempit di selat bangka, tiba tiba ada aba aba dari radio HT untuk waspada, tugboad berbelok tajam ke arah kanan, ternyata menghindari jaring nelayan yang membentang lumayan panjang. Di sebelah kanan ternyata ada jaring lainya lagi, kapten sempat kebingungan mencari celah untuk dilewari.
Tongkan brahma yang dari awal membuntuti kami berhenti untuk membaca situasi, dan dari komunikasi akhirnya mereka menemukan celah untuk dilewati, dan akhirnya giliran kami yang membuntuti.
Sebagai orang awam saya jadi bingung, ini tongkangnya yang salah jalur, atau nelayanya yang ngawur, seenaknya saja membentangkan jaring menghadang jalur tongkang. Atau memang belum ada regulasi dan kesepakatan, mana yang jalur transportasi, mana wilayah nelayan untuk mencari ikan.

Komentar
Posting Komentar