Pagi ini sepertinya sudah mulai meninggalkan selat bangka, sudah tidak terlihat lagi daratan dikiri dan kanan sejauh mata memandang. Gelombang menjadi lebih tinggi, sudah tidak berani lagi berdiri di bagian depan tongkang, karena percikan air akibat hantaman gelombang sudah makin tinggi dan membasahi lantai bagian depan.
Google Map sudah tidak bisa lagi dibuka, jadi tidak bisa tau pasti di mana posisi, hanya bisa mengira ngira.
Sinyal HP mulai hilang, hanya kadang kadang datang sekelebatan, pada saat itulah pesan masuk di WA datang secara borongan, tapi pada saat mau dibalas tiba tiba sinyal hilang, pesan nyangkut tidak terkirimkan.
Tugboat melaju persis ke arah matahari pagi, jarak antara tugboat dengan tongkang sejauh 300 meter yang dihubungkan dengan tali towing yang besarnya lebih besar daripada lengan.
Karena melaju menghadang gelombang, dari jauh terlihat gerak tugboat seperti orang yang manggut manggut mengikuti irama gelombang yang sahut menyahut, mungkin pengaruh berat tugboat yang lebih ringan mengapung di permukaan.
Di tongkang, ayunan gelombang relatif lebih tidak terasa, mungkin luas penampangnya yang lebih lebar, juga muatanya yang lebih berat, hanya terasa ketika kita sedang berjalan, seperti jalanya orang yang sedang mabuk, seolah bumi sedang bergoyang. Tetapi semakin siang, aynanya menjadi semakin kencang.
Berdiri di tengah tengah tongkang dekelilingi oleh laut yang seolah tidak ada tepinya, jadi membayangkan seperti perahu kertas yang diletakkan dalalam akuarium raksasa berbentuk bulat yang terbuat dari kaca.
Entah bagaimana caranya nenek moyang kita dulu bisa berlayar sampai ke madagaskar sana, ketika teknologi navigasi belum secanggih sekarang ini, dimana arah yang diketahui hanya berdasar pergerakan matahari. Bagaimana cara mereka menentukan tujuan ketika sudah berada di tengah lautan, bagaimana mereka bisa memastikan bahwa arah haluan memang benar menuju daratan, bukan sebaliknya malah semakin ke tengah lautan.
Makan siang hari ini agak telat, karena bangun tidurnya juga agak lambat, tidur setelah bergantian berjaga sampai pagi. Siang ini salah satu awak tongkang masak sup, wortel brokoli juga ayam. Saya sedikit berbasa basi menawarkan diri untuk membantu, "Tidak usah" katanya, karena ternyata masaknya memang sudah hampir selesai.
Ternyata masakanya enak sekali, bumbunya sangat terasa, lengkap dengan cengkeh dan pala, belum pernah saya menikmati sup yang selezat ini, ternyata dia memang mantan koki.
Berada di laut lepas yang sunyi, yang kemungkinan tidak ada lagi yang datang menghampiri membuat kami memberanikan diri untuk tidur agak pulas. Tapi jam dua pagi tetap saja saya terbangun dan berjaga untuk memperhatikan situasi. Karena seringkali gangguan datang di saat kita terlena dan merasa aman, tapi mudah mudahan itu tidak terjadi.

Komentar
Posting Komentar