Mbolang Lagi #6



Pagi ini hari ke enam berada di atas tongkang, sepertinya malam tadi hujan cukup lebat, terlihan dari permukaan tongkang yang basah semua, juga genangan genangan air yang tertahan di permukaan tongkang yang tidak rata.

Pada genangan genangan itu kemarin terdapat kristal kristal garam, dari percikan percikan yang terjemur dan mengering dan meninggalkan kristalnya.


Ternyata potensi garam kita sangat melimpah, laut kita terbentang sangat luasnya, kadang tidak bisa dimengerti kenapa kita mesti beli garam dari luar, padahal dari percikan percikan kecil saja tidak butuh waktu sampai satu hari sudah langsung terlihat garamnya.


Mengacu pada arah terbitnya matahari, sepertinya tongkang melaju ke arah selatan, tapi karena sudah beberapa hari ini mengalami disorientasi, tetap saja dalam perasaan tongkang berjalan ke arah timur. Dan baru sadar, ternyata sholat subuh tadi kiblatnya salah arah.


Untung saya bukan orang yang mudah panikan, yang menyangka hari sudah kiamat, melihat matahari terbit dari arah barat, padahal sedang mengalami disorientasi.


Tongkang brahma yang membawa batubara yang beberapa hari ini selalu membuntuti kami, pagi ini tidak terlihat lagi, mungkin sudah tertinggal jauh di belakang, atau sudah berbelok arah karena berbeda tujuan.


Karena kulkasnya tidak bisa hidup 24 jam, hanya hidup saat malam hari saja, bersamaan dengan hidupnya lampu penerangan, maka tidak memungkinkan untuk menyimpan daging dalam waktu lama. Untuk itulah disiasati dengan membeli ayam hidup.


Walaupun tidak bisa kemana mana selain tetap di tongkang, ayam ayam itu harus tetap diikat atau dikurung, karena sempat kejadian, salah seekor ayam mungkin karena stress, kemudian melakukan harakiri dengan terbang meninggalkan tongkang, mendarat di lautan dan tidak bisa diselamatkan lagi.


Di depan terlihat sayup sayup ada tongkang lagi, belum jelas dari arah berlawanan atau searah dengan kami, kalau searah, bisa jadi target untuk kami kejar dan kami dahului, karena tongkang kami melaju lumayan kencang, mingkin terprovokasi oleh pertanyaan kami yang bertubi tubi, "Kapan perkiraan bisa tiba di tujuan ?".


Mungkin dalam hati mereka mengatakan, "Customer yang satu ini memang menjengkelkan", tapi tidak berani untuk mengucapkan.


Duduk di sudut belakang pagar tongkang juga menyajikan pemandangan tersendiri, air yang tadinya bergelombang seperti baju habis dicuci, berubah menjadi rata seperti baru disetrika setelah dilewati.


Mendadak ada sekelebat sinyal datang, mungkin saat itu tongkang sedang berada lebih dekat dari daratan, walaupun sejauh mata memandang, tidak terlihat oleh pandangan mata.


Sempat sejenak nelpon keluarga, lumayan, bisa sedikit melepas rindu dengan anak anak, habis itu sinyal hilang lagi.


Dari pantauan google map pagi tadi masih ada jarak sekitar 90 mil lagi, dengan kecepatan tongkang 3 mill per jam, diperkirakan 30 jam lagi baru sampai tujuan.


Mudah mudahan tidak ada halangan, dan tiba di tujuan sesuai waktu yang direncanakan.


Komentar