Sowan Tanah Leluhur



Senja di pelabuhan serang, di awal bulan maulid, bulan sabit  malu malu, terselip diantara lampu lampu yang lebih berkilau.


Genap seminggu perjalananku, akhirnya akan kuinjak kembali tanah ini. Tanah para luluhur yang hanya kudengar dari cerita tutur, entah kemana langkahku akan menelusur.


Rindu yang menggumpal, tak sabar rasanya melompat meninggalkan kapal, tapi sabar, tunggu sampai lusa agar khidmadnya lebih terasa.


Tuhan Maha Berencana, meringkuk di belakang sibuk tak kunjung jenguk, dilenakan oleh kerja malah didatangkan karena kerja.


Akan dianggap apa aku nanti, anak hilang yang kembali pulang, atau malin kundang yang datang membawa berang.


Semoga di alam sana, para leluhur tidak menjadi murka, melihat anak durhaka masih berani menisbatkan diri.

Komentar

  1. MasyaAllah pak bahasa kata2 nya, keren dan bermajas.
    Semoga segera menerbitkan buku pak🤲

    BalasHapus
  2. Aamiin..., doakan ya

    BalasHapus

Posting Komentar