Terasa Tidak Terasa Seminggu di Tanah Jawara.


 Seminggu yang sangat terasa, terasa dalam penat dan lelahnya kerja, mungkin hanya atas perlindungan Gusti Allah sajalah hingga sampai saat ini fisik dan pikiran masih baik baik saja.


Ya, seminggu ini berada di tanah para jawara, tanah banten, tepatnya di sekitar bojonegara, cilegon, serang dan sekitarnya dalam rangka kerja.


Ternyata tanah banten itu istimewa, istimewa alamnya juga istimewa orang orangnya. Ini penilaian pribadi yang sulit untuk disangkal, bukan karena  kesan emosional karena merasa punya leluhur dari sana, tapi kesan yang betul betul mengendap dalam hati setelah seminggu berinteraksi.


Selama ini, kesan yang terkabar tentang mereka, bahwa orang orang banten adalah orang orang yang "sakti", yang mempunyai kelebihan dalam kekuatan fisik juga spiritual, yang dengan semua itu, seharusnya bisa mempunyai "legitimasi" untuk bersikap arogan dan menang sendiri.


Tapi apa yang terasakan selama seminggu ini setelah berinteraksi langsung dengan mereka sungguh jauh berbeda, mereka benar benar orang yang sangat santun dan rendah hati, padahal belakangan saya mengetahui, bahwa mereka sebenarnya adalah orang orang yang mumpuni.


Beban kerja yang menuntut, juga kejadian kejadian tak terduga yang mengganggu kelancaranya, membuat pikiran sempat gelap mata, menggoda hati untup meluapkan arogansi, walaupun akhirnya saya harus menyesali diri. Kok berani beraninya saya cari perkara, padahal ini adalah tanahnya para jawara.


Tanah banten juga gudangnya untuk berwisata spiritual,  banyak jejak para lelehur dan para wali ada disana, dari pelabuhan bojonegara, gunung santri sudah di depan mata, tempat bermakam Ki Soleh yang melegenda, yang setiap jumat dan minggu banyak peziarah yang berkunjung ke sana.


Tapi sungguh sangat cepat sekali berjalanya waktu, sampai saatnya harus meninggalkan tanah ini, sayang sekali belum sempat juga terkabul untuk berkunjung dan berziarah ke sana.


Tulisan ini dibuat di ruang tunggu bandara sukarno hatta, sambil mengisi waktu menunggu saatnya mengudara. Menunggu agak lama karena datang terlalu cepat dari jadwal yang seharusnya. Tapi tidak mengapa, sesuatu yang wajar untuk mengurangi kecemasan bagi orang yang pertama kali datang ke sana. Untung ada bantuan dari Kang Mul, Kang Alung, Kang Rizal, untuk kelancaran perjalanan menuju ke sana.


Rasa rindu ingin segera bertemu dengan keluarga, membuat penantian di ruang tunggu ini terasa lama, tapi meninggalkan para saudara di tanah jawara, yang baru kukenal selama seminggu ini, terasa sungguh sangat cepat sekalu berjalanya waktu.


Terima kasih Kang Mul, Kang Alung, Kang Jam, Kang Edi dan Kang Rizal atas sambutan dan bantuanya. Kapan kapan Insyaalloh kita akan bertemu lagi.


Komentar