Hari ini mendapat tugas untuk dinas luar lagi, dinas luar ke perusahaan pembeli palm kernel atau inti sawit yang kami produksi. Sudah beberapa trip sebelumnya mereka mengklaim bahwa kernel yang kami kirimkan kurang kering, sehingga kadar airnya lebih tinggi dari kontrak yang disepakati, yakni maksimal 8%.
Karena nilai rupiah yang diklaimnya lumayan tinggi, akhirnya perusahaan memutuskan untuk mengirim saya, melakukan analisa bersama terhadap mutu kernel ditempat pembeli.
Alhamdulillah pagi ini kondisi badan lumayan membaik, setelah dua hari sebelumnya ngedrop, terserang flu bercampur dengan masuk angin. Dua botol vitamin C dosis tinggi dan beberapa sachet antangin, sepertinya sukses mengatrol daya tahan tubuh untuk kembali menguat lagi.
Sempat muncul kekhawatiran bahwa ngedropnya kondisi badan ada hubunganya dengan pademi ini, karena seminggu sebelumnya selama hampir setengah bulan "mbolang" ke tanah seberang, tapi mudah mudahan kekhawatiran itu tidak terjadi.
Berangkat dari kebun jam 8 pagi, ditemani oleh sopir dengan menggunakan kendaraan perusahaan. Untuk mengisi waktu selama perjalanan, kami terlibat dalam obrolan obrolan ringan, dan entah bagaimana awalnya ketika obrolan itu menjadi terputus dan saya baru tersadar ketika terbangun jam setengah sebelas siang. Mungkin karena efek begadang semalam.
Perjalanan baru dapat dua per tiganya, akhirnya kami putuskan untuk istirahat makan siang di Indralaya, istirahat di rumah makan langganan yang menyajikan menu aneka macam pindang, lengkap dengan sambal kemang juga tidak ketinggalan aneka lalapan.
Kuah pindang kepala ikan baung yang panas, juga sambal kemang yang menyengat lidah, sukses membuat badan saya menjadi "gobyos" berkeringat kembali, yang memaksa saya untuk melepaskan jaket di sela sela acara makan siang. Daun kemangi, daun kencur, dan terong merah sebesar ibu jari adalah jenis lalap favorit yang wajib saya santap, juga untuk pertama kalinya saya mencicipi lalapan dari jenis umbi umbian, entah apa namanya, tapi dari bentuknya seperti rimpang kunyit putih yang sudah dikupas dan dicuci bersih. Dan ternyata rasanya menghadirkan sensasi yang menyegarkan baik di mulut bahkan sensasinya terasa sampai ke perut.
Ditutup dengan minuman air jeruk panas, membuat badan saya menjadi "jenggiras", terasa segar kembali dan sehat seperti sedia kala.
Sampai lokasi jam 12.30, gara gara pandemi, prosesi "kulo nuwun" di pos scurity menjadi sedikit "njelehi", harus mematuhi protokol dan birokrasi yang memaksa hati untuk menahan diri. Untung saya masih membawa hasil rapid test pada saat mau pulang dari "mbolang" tempo hari, sehingga dengan mulus dipersilahkan untuk masuk ke "sarang" mereka.
Berbekal bedge tanda pengenal sebagai tamu, saya diarahkan ke gedung central laboratorium, sepertinya bangunan baru, karena pada kunjungan sebelumnya beberapa tahun yang lalu, bangunan ini belum ada.
Sampai pintu lab, saya dibantu oleh salah seorang petugas, setelah sebelumnya tidak berhasil membuka pintu, karena ternyata kuncinya terkoneksi dengan finger print dan ID card petugasnya.
Setelah berbasa basi sejenak dengan menanyakan asal usul dan keperluan, akhirnya beliau bercerita kalau punya teman di tempat saya kerja, "Namanya Pak Lukman", katanya.
"Ya saya ini orangnya", dan tawa kami pun meledak.
Ternyata, lamanya waktu tidak berjumpa, juga mungkin pengaruh bertambahnya usia, atau mungkin karena masker yang menutupi separuh wajah kami, membuat kami tidak saling mengenali lagi.
Akhirnya saya ditemani menuju laboratorium produksi, lokasinya lumayan jauh, sekitar dua ratus meter dengan berjalan kaki. Laboratorium produksi itu "sarangnya" para senior yang sudah kenyang pengalaman di lapangan.
Kehadiran saya di situ menghadirkan sedikit kehebohan, karena mereka semua adalah para sahabat, sekaligus sparing partner saya dalam memperdebatkan kualitas barang, ketika mereka survey berkunjung ke lapangan, sebelum membeli produk kami.
Yang paling senior di antara mereka adalah Pak Kosim, usianya menjelang pensiun, pada saat saya datang beliau sedang tertidur, karena memang masih jam istirahat. Kawan kawan yang lain tidak berani membangunkan, hanya sesama "senior" lah yang berani membangunkanya.
" Halo kakakku, apo kabar ?", sapaku ketika menghampiri dan membangunkanya.
" Hei Man, seraso mimpi aku biso bertemu kau lagi ", balasnya dengan logat palembang yang kental ketika kami dengan erat berjabat tangan.
Acara kunjungan kali ini yang seharusnya menjadi acara perdebatan, berubah menjadi acara "gojlokan" sesama kawan lama. Tapi kerja tetap kerja, satu truk kernel yang kami kirim hari ini mutunya tetap out of spec, tapi delapan truk sisanya, dengan mulus bisa diterima. Hasil kunjungan yang cukup adil untuk hari ini.

Komentar
Posting Komentar