Klangenan Tuan Inspectur



Pisang barangan yang terhidang di atas meja itu tidak lagi menarik perhatianya, sejak Lek Pardi menyampaikan ceritanya pagi ini. Tidak seperti masa masa sebelumnya, selalu ia menghidangkanya dengan penuh bangga, karena pisang itu adalah pisang langka,  yang biasa ia hidangkan ketika Tuan Inspectur datang berkunjung ke lokasi tempat kerjanya. 


Di tanah leluhur Tuan Inspectur, pisang ini adalah pisang para raja dan para bangsawan, yang derajatnya lebih tinggi dibandingkan pisang pisang lainya, entah itu pisang ambon ataupun kepok dan pisang raja. Kerena itulah ia berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan bibit pisang itu, dan dari pengawal Tuan Inspecturlah baru ia mendapatkan bibitnya yang dibawa langsung dari tanah leluhur ketika kunjungan berikutnya.


Tuan Inspectur sangat menyanjung pisang itu, dan menjadikanya sebagai makanan kesukaanya, yang katanya rasanya beda dari pisang pisang lainya.


" Rasanya tetap legit dan tidak menjadi masam, juga teksturnya tetap pulen tidak menjadi bonyok, walaupun sudah terlalu masak".


Begitu selalu Tuan Inspectur mempromosikan.


Walaupun menjadikan pisang barangan sebagai klangenan, tapi Tuan Inspectur bukanlah turunan raja ataupun bangsawan, tapi melihat posisinya sekarang, sudah sepantasnya beliau dipanggil dengan sebutan "Tuan", yang status sosialnya sudah setara dengan para bangsawan. 


Mengabdikan diri di perusahaan perkebunan yang sudah berdiri sejak zaman belanda, banyak pekerjanya yang sudah turun temurun dari generasi ke generasi, begitu juga dengan Tuan Inspectur Midono, bapak dan kakeknya juga bekerja di perkebunan ini. Tapi baru Tuan Inspectur Midono lah untuk pertama kalinya orang peribumi yang berhasil mendusuki jabatan inspectur, karena pejabat inspectur yang sebelum sebelumnya pastilah tuan tuan bule dari eropa, atau kalau tidak, sesekali tuan keling atau tuan cina dari negeri tetangga, dan orang pribumi cukup jadi pekerja lapangan, atau kalau ada yang berprestasi dan cukup terpelajar, paling hanya bisa diangkat menjadi clerk atau sinder, atau kalau lebih beruntung, bisa naik lagi menjadi administratur.


Sebagai warisan tuan tuan belanda, posisi inspectur adalah posisi yang sakral, karena Tuan Inspectur bisa menentukan seorang pekerja masih boleh bekerja atau tidak, seorang pekerja akan dinaikkan pangkatnya atau malah dipecat, mematuhi Tuan Inspectur berarti mematuhi dan loyal pada perusahaan, menyenangkan hati Tuan Inspectur dianggap juga berjasa pada perusahaan, tetapi sebaliknya, membuat Tuan Inspectur kecewa alamat  pekerjaanya bakal mandeg tidak akan berkembang lagi.


Sebagai seorang yang kenyang ilmu dan kenyang pengalaman, Tuan Inspectur Midono sudah seperti kalkulator dan laboratorium berjalan, segala urusan yang berhubungan dengan perkebunan dan pabrik pengolahan sudah sangat dikuasainya bahkan hafal diluar kepala.


Setiap melakukan kunjungan ke lapangan, hanya dari melihat warna daunya saja, Tuan Inspectur sudah bisa langsung menyimpulkan perlakuan apa yang didapat oleh tanaman tersebut dan apa kekuranganya, juga produktifitas yang bisa di dapat dari kondisi yang dilihatnya, sehingga laporan yang disampaikan oleh para bawahanya menjadi agak terabaikan, karena tanaman tanaman itu sudah bercerita kepada Tuan Inspectur dengan bahasa tubuhnya sendiri, seolah diantara mereka sudah terjalin keintiman.


Biasanya jadwal kunjungan Tuan Inspectur hanya dua hari, satu hari di kebun dan satu hari di pabrik, siang harinya keliling meninjau langsung ke lapangan, baru malam harinya kongkow kongkow dengan para bawahanya, semacap rapat, tapi lebih santai, lebih banyak diisi dengan acara makan makan dan ngobrol santai, tapi tetap saja para bawahanya yang rata rata adalah para insinyur yang lebih muda, tidak lupa menyiapkan buku catatan untuk jaga jaga, jika sewaktu waktu Tuan Inspektur menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaanya.


Sebenarnya tidak sepenuhnya bisa dikatakan ngobrol, karena obrolanya lebih banyak berjalan satu arah, disamping tentang arahan kerja, yang lebih banyak adalah cerita tentang perjuangan dan prestasi Tuan Inspectur hingga mencapai singgasananya yang sekarang ini. Walaupun sudah diulang ulang setiap kali datang, tapi para insinyur bawahanya itu tetap mendengarkan dengan ekspresi penuh kekaguman, seolah cerita itu baru pertama kali mereka dengarkan.


Ada menu hidangan yang selalu menjadi kesukaan Tuan Inspectur, yang selalu disiapkan oleh para bawahanya setiap kali acara kongkow dan makan bersama, yaitu pindang bebek panas dengan rempah yang melimpah, dilengkapi dengan sambal nanas dengan aneka lalapanya. Karena itulah, di kebun ditugaskan satu orang karyawan khusus untuk berternak bebek, agar setiap kali Tuan Inspectur datang, bebeknya sudah tersedia. Sementara untuk di pabrik, karena tidak ada lahan untuk berternak, kabagian tugas untuk menanam pisang barangan, yang ditanam di sepanjang pagar belakang.


Keringat Tuan Inspectur yang luruh bercucuran ketika menyantap pindang bebek yang masih panas dan pedas, juga sekaligus meluruhkan ganjalan ganjalan yang ditemukan selama tinjauan ke lapangan, ditambah lagi dengan manis legitnya hidangan penutup berupa pisang barangan yang masaknya sedang, mampu menggantikan kesan kesan yang kurang enak terhadap bawahanya, berganti menjadi kesan yang lebih manis untuk dibawa pulang.


Terdengar kabar bahwa pada kunjungan kali ini Tuan Inspectur akan ditemani oleh Tuan Muda, Tuan Muda adalah putra mahkota, putra dari Tuan Besar sang pemilik perusahaan yang baru saja pulang dari belajar di eropa.


Desas desus yang beredar, Tuan Muda akan menggantikan posisi Tuan Inspectur yang mulai uzur, sebagai persiapan untuk menggantikan posisi bapaknya dalam mengendalikan perusahaan seutuhnya.


Ada yang bilang bahwa Tuan Inspectur akan diberikan tugas baru, dinaikkan jabatanya sebagai penasehat dan pembimbing bagi Tuan Muda, sebagai imbalan atas jasanya yang besar pada perusahaan. Tetapi kabar lain mengatakan bahwa pisisi barunya itu nanti hanyalah sebagai basa basi belaka, untuk menyingkirkan Tuan Inspecrur secara perlahan, karena cara memimpinya yang sudah dianggap usang.


"Tuan Muda lebih suka salad, lebih sehat katanya daripada pindang bebek".


Begitu celoteh Lek Pardi pagi ini sambil menghidangkan secangkir kopi. Lek Pardi adalah tukang kebun sekaligus office boy di kantor pabrik, dia mendapatkan cerita itu dari Bik Sumi, istrinya yang bekerja mengurus mess kebun tempat Tuan Inspectur dan Tuan Muda menginap malam tadi.


Walaupun hanya office boy, tapi Lek Pardi bisa dijadikan sumber informasi, disamping informasi dari Bik Sumi yang sering tidak sengaja mencuri dengar ketika melayani acara makan makan, juga Lek Pardi sering mendapatkan Informasi langsung dari Tuan Inspectur, ketika malam malam dipanggil untuk memijat badan Tuan Inspectur sebelum tidur.


"Tuan Muda pingin tau segalanya, banyak yang hadir malam tadi tergagap gagap karena tidak siap dengan cecaran pertanyaan dari Tuan Muda", Lek Pardi melanjutkan ceritanya.


"Sepertinya semuanya sedang kehilangan selera", lanjut Lek Pardi, terbukti dari banyaknya sisa makanan yang dibawa pulang oleh Bik Sumi, yang pagi ini sebagian dibawa oleh Lek Pardi untuk dijadikan sarapan dan bekal makan siang nanti.


Menurut cerita Bik Sumi, untuk kunjungan berikutnya hidanganya Tuan Muda meminta agar hidanganya cukup makanan ringan saja, mubazir katanya, karena banyak yang tersisa.


" Tuan Inspecture ingin menghabiskan masa pensiunya di kampung halaman", Lek Pardi menutup ceritanya sambil permisi untuk melanjutkan pekerjaanya membersihkan seluruh ruangan kantor, karena satu jam lagi Tuan Inspectur dan Tuan Muda akan segera datang.


"Lek, sekalian panggilkan Dona kemari, suruh sekalian bawa semua laporan".


" Siap Pak".


Bersamaan dengan berlalunya Lek Pardi, ditariknya lagi pisang barangan yang sudah ia siapkan diatas meja untuk dimasukkan lagi ke dalam laci. 


Komentar