" Benar kan Gus, kalau istri yang menolak ketika suaminya berkehendak kemudian suaminya tidak ridho, maka akan dimurka oleh Gusti Allah?". Celoteh Cak Don tiba tiba di sela sela obrolanya malam itu bersama Gus Nur, sahabatnya sekaligus teman sekelasnya dulu ketika masih sama sama ngaji di madrasah, hanya bedanya Gus Nur meneruskan ngajinya hingga kini sudah menjadi seorang kyai.
" Kok tumben sampean tanyakan masalah ini Cak, kan kita dulu pernah sama sama ngaji, apa sampean mulai meragukan dawuhnya Kanjeng Nabi?", Cak Don hanya bisa mesem kecut mendengar tanggapan dari Gus Nur.
" Atau sampean sedang ditilap atau sedang disingkur sama istri ya, makanya bertanya seperti itu, makanya Cak, sampean itu harusnya juga empan papan, lihat situasi dan kondisi, lihat dulu kondisi fisik dan psikologis istri, jangan asal seruduk saja, sebagai suami, sampean jangan lantas menjadi egois karena ada dawuh Kanjeng Nabi yang seperti itu", lanjut Gus Nur bermaksud menggoda Cak Don.
" Bukan begitu Gus, tapi kalau dipikir pikir ya Gus, justru dawuh Kanjeng Nabi itu malah membebani para suami lo Gus ", lajut Cak Don mencoba menjelaskan maksud pertanyaanya itu.
" Kenapa bisa begitu Cak, bukankah dawuh itu sering dipakai oleh para suami untuk menakut nakuti istrinya biar selalu siap untuk melayani ?".
" Yang jadi berat bagi suami itu menjaga hati untuk tetap ridho Gus, ketika istrinya sedang tidak berkenan untuk melayani. Masak seorang suami akan tega membiarkan istrinya mendapat murka gara gara begituan ?".
" O.., begitu ya Cak ", sambung Gus Nur yang ingin terus mengorek pikiran dari sahabatnya itu yang kadang suka ngelantur.
" Ya iya lah Gus, betapa "mukiyo"nya gombalan suami yang berjanji untuk setia hidup bersama dunia sampai akhirat, tapi membiarkan istrinya masuk neraka".
" Makanya Cak, sampean harus selalu ikhlas dan ridho dengan apapun perlakuan dan pelayanan dari istri".
" Justru di situ lah letak beratnya Gus, suami yang sedang tidak "keturutan" itu kan rasanya ngalah ngalahi orang yang sakit gigi, semua yang dilihat dan didengar jadi serba kurang "tepak", kalau sudah begini kan jadi susah untuk dipaksa menjadi ridho".
" Jadi maunya gimana Cak".
" Kalau dipikir pikir ya Gus, ternyata laki laki itu tidak ada hebat hebatnya, "pengapesanya" hanya sepele, hanya dengan urusan yang begituan. Mungkin karena diciptakan dengan hasrat yang berlebihan itulah makanya Gusti Allah mengizinkan untuk beristri lebih dari satu".
" Nah ini.., jadi ternyata penjelasan sampean yang muter muter tadi, kesimpulanya sampean pingin kawin lagi ya Cak ", ledek Gus Nur sambil terkekeh, dia tahu sebenarnya sahabatnya tidak akan berani, karena dari jaman sekolah dulu Cak Don memang paling penakut dan pemalu, apa lagi pada perempuan.
" Halah njenengan ini, mana berani saya Gus, maksud saya kalau memang sudah berkomitmen untuk tidak berpoligami, mbok para istri itu membuka diri untuk berkomunikasi kalau sedang tidak siap untuk "ngladeni", biar suaminya tidak merasa disepelekan karena ditilap atau disingkur, apa lagi kalau sampai di clathu ".
" Jangan jangan malah sampean yang kurang komunikasi Cak, kurang pinter mengambil hati istri, main langsung sruduk saja, sehingga istri sampean menjadi tidak nyaman, dan akhirnya malah nyingkur", Cak Don hanya bisa mesem saja mendengar tanggapan dari Gus Nur.
" Satu lagi yang bikin berat Gus, bahwa suami itu tidak boleh masuk surga sendirian, harus membawa serta istri dan anaknya, sesuai dengan dawuh Gusti Allah dalam Al Qu'ran".
" Dawuh yang mana itu cak ?".
" Itu nah Gus, yang berbunyi quu anfusakum waahlikum naaron, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, jadi kalau suami membiarkan istrinya masuk neraka hanya gara gara tidak ridho, kan sama saja dengan menutup jalanya sendiri menuju surga Gus", jawab Cak Don sekenanya mengutip ayat Al Qur'an.
" Wah, menarik juga pemikiran sampean ya Cak ".
" Menarik tapi belum tentu benar kan Gus, karena itulah saya bercerita sama njenengan, karena njenengan memang sudah ahlinya, biar saya bisa dikoreksi, biar saya tidak sesat fikir karena salah tafsir " , jawab Cak Don menunggu pencerahan.
" Begini ya Cak ", jawab Gus Nur bersiap memberikan tausiah sambil sebelumnya membetulkan posisi kopiah. Cak Don pun bersiap mendengarkan dengan seksama, sambil menyeruput kopi yang hampir dingin karena keasikan diskusi.
Tiba tiba Cak Dok tersedak dan terbangun dari tidurnya, ternyata diskusinya dengan Gus Nur tadi hanyalah mimpi, dalam hati dia berjanji, besok pagi akan menemui Gus Nur, dan meminta untuk melanjutkan tausiahnya lagi.

Komentar
Posting Komentar