Malam ini sudah malam ke delapan sejak kepergian Pakdhe, tapi suasana duka dan kehilangan masih sangat membekas di dalam hati. Walaupun seharusnya saya merasa "bungah", karena yakin bahwa beliau saat ini sedang mendapatkan kenikmatan di alam barzakh.
Pakdhe itu suaminya Budhe, Budhe itu mbakyunya Bapak, yang satu satunya saudara kandung Bapak yang sama sama hijrah ke pulau sumatra. Inilah yang membuat hubungan keluarga kami menjadi sangat dekat. Sudah selayaknya seperti orang tua dengan anak anaknya, bukan lagi seperti Pakdhe/Budhe dengan keponakan keponakanya.
Semua orang memanggil beliau dengan panggilan Mbah Jalal, sesuai dengan usia beliau yang sudah sangat sepuh, mungkin mendekati satu abad, mengingat usia Budhe sekarang sudah tujuh puluhan, sedangkan ketika Beliau menikahi Budhe usia beliau sudah empat puluh, sedangkan Budhe waktu itu baru tujuhbelas.
Walaupun sudah sering "gerah", tapi semangat beliau tetap tidak pernah menyerah, terutama semangat silaturahmi. Ini terbukti ketika kami ada acara ngunduh mantu, dalam kondisi yang sudah seperti itu, beliau tetap menyempatkan diri untuk "rawuh" dan iku "njagongi" para tetamu.
Soal silaturahmi, beliau itu memang ahlinya, dengan melihat beliau, keyakinan saya makin kuat terasa, bahwa silaturahmi memang bisa membuka pintu rejeki dan juga memanjangkan usia.
Banyak tempat di pelosok jawa dan sumatra ini yang sudah beliau datangi. Setiap terdengar kabar ada kerabat atau sahabat yang tinggal di sana, beliau akan selalu berusaha untuk bisa mengunjunginya. Ya, semata mata untuk tujuan silaturahmi, menyambung "paseduluran".
Menyimak jejak nyantrinya yang terhampar panjang, saya sangat meyakini bahwa beliau ini orang yang sangat alim, walaupun kesederhanaan selalu menutupinya. Bukan dampar atau mimbar tempat beliau menyampaikan syiar, beliau hanya tampil seperti orang biasa, beliau berda'wah dengan lelaku, dengan "tutur" juga dengan "sembur".
Walaupun begitu kealiman beliau tetap tampak nyata, terbukti dari banyaknya orang orang alim yang menta'dziminya.
Ingat kisah ketika baru datang hijrah ke pulau rimau, ketika itu acara agustusan, beliau beserta rombongan membuat atraksi pertunjukan, memanjat tangga dari pedang, memecahkan kelapa dengan kepala, membakar orang yang dikurung dengan karung goni, diiringi dengan alunan sholawatan, dan alhamdulillah semua aman tidak terjadi apa apa. Memang kadang kadang untuk syi'ar, juga bisa menggunakan media yang belum bisa diterima oleh nalar.
Mengetahui ponakanya sering merantau kesana kemari, pernah sekali waktu beliau berkenan untuk memberikan "cekelan" sebagai "piandel", tapi karena saya sadar diri tidak mampu untuk menjaga amanat itu, maka dengan berat hati tidak bisa saya terima, tapi yang saya tau pasti, beliau menawarkanya atas dasar rasa sayang pada ponakanya.
Banyak sekali kesan yang bakal lama terekam dalam ingatan, kesan ketika masih jadi orang perahu, menyusuri sungai calik hingga ke karang agung ilir bersama beliau, atau kesan ketika jaman susah dulu, ketika tiap malam numpang nonton tivi sambil mijitin badan beliau yang "sayah" setelah seharian bekerja di sawah.
Sering kali sambil dipijiti, sambil beliau menceritakan perjalanan silaturahminya kemana mana, juga tentang kawan kawanya yang tersebar dimana mana, semuanya detail, lengkap dengan rute perjalananya, rumahnya menghadap kemana bahkan sampai ke detail isi pembicaraanya.
Sering kali juga sambil dipijiti beliau tertidur dengan lelap, tapi mendadak menegur ketika pijitan saya mulai mengendur. Atau memberikan tanggapan ketika saya dengan Budhe mulai "rasan rasan". Jika teringat itu saya jadi teringan almarhum Gus Dur, yang konon ceritanya bisa menyimak obrolan di sekitarnya walaupun posisi sedang tertidur.
Sebagai "punjer"nya warga desa sumber agung, juga kecamatan pulau rimau pada umumnya, setiap kali lebaran atau sedang hajatan, pasti banyak sekali orang yang datang untuk sowan, dan semua diperlakukan sama, diperlakukan layaknya anggota keluarga.
Siang itu selepas dzuhur, dapat kabar dari WA grup keluarga bahwa beliau telah tiada, hati saya meronta untuk segera pulang kesana, tapi mempertimbangkan jarak dan juga waktu yang tersedia, tidak memungkinkan lagi untuk turut serta memberikan penghormatan sebagimana mestinya.
Betapa malunya saya, sudah "nunut mulyo" dengan menisbatkan diri sebagai ponakanya, tapi di saat waktunya untuk memberikan penghormatan terakhir, malah saya tidak bisa hadir.
Walaupun mungkin kesaksian saya ini nanti tidak akan ada artinya jika dibandingkan dengan kesaksian banyak orang lainya, karena ibaratnya menggarami lautan yang sudah asin, apalagi di hadapan Gusti Allah Yang Maha Mengetahui, tetapi saya akan tetap bersaksi bahwa beliau adalah orang baik.
"Sugeng tindhak Pakdhe", teriring bacaan fatihah, kami akan selalu menghaturkan salam rindu.

Komentar
Posting Komentar