Hari masih terlalu pagi untuk semua aktifitas dimulai, dan hujan sudah turun mendahului. Tapi rizki tetap harus dijemput karena tidak mungkin datang sendiri, walaupun hawa dingin dan kekhawatiran akan tubuh menjadi basah sedikit menghalangi.
Hujan pagi biasanya turun agak lama, jadi akan kehabisan waktu kalau harus menunggu sampai hujan menjadi reda. Dikenakanya mantel stelan yang mulai berlobang di bagian selangkangan, yang memungkinkan air untuk masuk merembes dari tempat duduk, dan akan meninggalkan bekas seperti orang yang sedang pipis di celana.
Sudah menjadi resiko dengan memilih jalan rizki dengan menjadi orang gajian, semua serba diatur dengan aturan yang sudah ditetapkan, termasuk aturan jam berapa harus mulai kerja, tidak perduli dengan kondisi cuaca, walaupun harus dengan menerobos derasnya hujan.
Ia memacu sepeda motornya dengan sedikit terburu buru, bukan hanya takut akan kehabisan waktu, tapi juga untuk menghindari agar tubuh dan pakaian tidak menjadi lebih basah lagi, karena mantel yang membungkusnya tidak bisa dengan sempurna membuat tubuh terlindungi.
Entah sejak kapan ia mulai menghawatirkan turunya hujan, seingatnya dulu hujan adalah teman, yang kehadiranya selalu membawa berkah kegembiraan. Sekurangnya di halaman rumah, di bawah cucuran atap daun nipah. Di kampungnya dulu, mandi air hujan adalah sesuatu yang mewah, karena air sumur dan air sungai berwarna merah, seperti air teh, ciri khas air gambut, warna merah yang berasal dari timbunan dedaunan dan akar akar yang tersimpan lama di dalam tanah.
Kegembiraan itu makin menjadi ketika teman temanya datang menghampiri, berlarian kesana kemari di tanah yang lembek dengan genangan air hujan di sana sini. Atau main prosotan di jalan tanjakan, diiringi gelak tawa yang bersahutan. Atau main gobak sodor yang sensasinya menjadi lebih terasa ketika hujan tiba, dan baru akan berhenti ketika ibunya marah marah karena melihat anaknya mulai menggigil kedinginan.
Musim hujan biasanya juga waktunya untuk sedikit melepas lelah, dimana waktunya batang batang padi mulai berisi sebagai pertanda akan munculnya calon buah, sehingga tidak banyak lagi pekerjaan yang harus dilakukan di sawah.
Kenanganya tertarik kembali ke masa ketika hujan tak kunjung berhenti sampai sore hari. Ketika ayahnya mencabut dua batang ubi yang ditanam di tegalan belakang rumah, untuk digoreng dan dinikmati bersama sama dengan ayah, ibu dan dua orang adiknya, sambil menunggu waktunya sholat maghrib tiba.
Ketika itu usianya masih sedang rakus rakusnya, mungkin karena masih masa pertumbuhan, sehingga ubi yang sudah digoreng tidak lagi menunggu dingin untuk segera dihabiskan sebelum gorengan berikutnya menjadi masak dan siap untuk dihidangkan, yang membuat ibunya sering kali tidak kebagian.
" Hatchi..., hatchi...!! "
Ini adalah bersin yang ke sekian kalinya pagi ini, mudah mudahan bersin bersin itu, juga rasa berat di kepala akan segera reda, setelah segelas air hangat melewati tenggorokan, mendorong obat flu yang tidak pernah absen tersimpan di dalam tas kerjanya.
Ah.. !, mengapa hujan sekarang menjadi kurang bersahabat, kepalanya seketika menjadi berat dan hidungnya menjadi tersumbat setiap kali tubuhnya terkena siraman air hujan walaupun tidak lebat. Tidak seperti ketika ia dulu masih bekerja di sawah, membantu ayahnya mengolah tanah, turunya hujan akan membuat semangatnya semakin bergairah, dan hanya dengan mandi keramas dan minum secangkir kopi, sudah cukup untuk penghangat badan dan pengusir lelah.
Mungkin sejak ia bekerja dengan seragam yang rapi, sehingga menjaga jarak setiap kali hujan datang mengunjungi. Mungkin hujan sedang merajuk, karena dijadikan beban dan kehadiranya selalu dirutuki, padahal dia datang membawa pesan, pesan rahmat kasih sayang Tuhan yang seharusnya disyukuri.

Komentar
Posting Komentar