"Chiko Tidak Pulang"




Minggu ini batal pulang, walaupun sudah dijadwalkan dua minggu sekali pulang ke Palembang, tapi karena mendadak ada pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan, akhirnya urusan rindu pada keluarga harus rela dikalahkan untuk dinomorduakan.


Hidup berjauhan dengan keluarga memang berat, berjauhan dengan Ibu, Mbak Syifa, terlebih lagi dengan Adek Bita yang mulai terampil menyampaikan perasaanya, baik menyampaikan secara verbal, juga menyampaikan secara visual.


Pernah suatu ketika Adek Bita menunjukkan hasil coretanya di kertas gambar, ada gambar sederhana karakter dua orang dewasa yang mengapit seorang anak, kemudian gambar itu dibingkai dengan simbul hati.


Ketika ditanya apa maksud dari gambar itu, dengan lancar dia menjelaskan, "Ini adalah Ayah, ini adalah Ibu, dan ini adalah Adek", sambil menunjuk gambar karakter anak kecil yang berdiri di tengah. Dan ketika ditanya apa maksud dari bingkai simbul hati, dia menjawab "maksudnya Adek Bita sayang Ayah, juga sayang Ibu", karuan saja sebagai orang tua, saya jadi baper mendengar jawabanya.


Belakangan ini, setiap kali menjelang ayahnya berangkat ke kebun hari senin dini hari, Adek Bita selalu minta untuk dibangunkan, untuk sekedar mencium tangan sambil menyampaikan pesan, "besok Ayah pulang lagi kan ?", tentu saja saya jawab "ya" sambil dalam hati saya tambahkan jawaban "ya, besok dua minggu berikutnya lagi".


Tadi habis isya seperti biasa nelpon ke rumah, sekedar untuk mengurangi rasa rindu walaupun hanya lewat suara, apalagi kalau mendengar celotehan Adek Bita, rasanya seperti hilang lelah seharian kerja. Tapi ternyata Adek Bita sudah tidur, menurut cerita ibunya, seharian ini banyak menangis karena sedih, sedih karena "Chiko" anak kucing yang mulai beranjak remaja, yang selama ini selalu berbagi keceriaan dengan Mbak dan Adek Bita, seharian ini tidak pulang.


Memang tidak biasanya Chiko pergi agak lama, kalaupun keluar rumah paling tidak sampai dua jam sudah muncul kembali, apalagi kalau sudah waktunya makan, pasti sudah meong meong di depak mangkuk tempat makan dia yang selalu diletakkan di samping bawah westafel dapur.


Sebenarnya secara fisik, Chiko bukanlah kucing yang istimewa, hanya kucing kampung biasa yang kebetulan memang lahir dirumah kami, dari induk kucing liar yang tidak jelas siapa pemiliknya. 


Sebelumnya juga pernah ada kucing melahirkan di rumah, melahirkan di sudut dibelakan tandon air yang berada di lantai dua, karena posisinya yang tersembunyi dan susah dijangkau, keberadaan bayi kucing itu baru kami ketahui setelah menjadi bangkai, mungkin karena induknya tidak bisa menyusui karena tidak punya kesempatan lagi untuk masuk rumah setelah melahirkan.


Itulah kenapa ketika mengetahui ada kucing yang melahirkan lagi, kami berusaha untuk memindahkanya, tapi mungkin karena trauma, membuat Chiko dan induknya menjadi sangat liar dan susah untuk didekati, akhirnya kami putuskan untuk merawatnya dengan memberi makan setiap hari, sampai Chiko menjadi jinak dan akrab dengan Mbak dan Adek Bita.


Ketika saya sampaikan kemungkinan bahwa Chiko tidak pulang karena kecelakaan, giliran Mbak Syifa yang ikutan menangis, ternyata ikatan kasih sayang mereka dengan Chiko sudah lumayan kuat, bahkan ketika kami sedang sibuk membicarakan kepergian Chiko, tiba tiba Adek Bita terbangun dan menangis, dalam pelukan Ibunya dia berkata "Adek rindu sama Chiko".


Ternyata yang merasa kehilangan atas kepergian Chiko bukan hanya mereka berdua, tetapi juga Ibunya, karena biasanya setiap kali menggoreng ikan, selalu dilebihkan untuk jatahnya Chiko, dan hari ini kelebihan ikan itu tidak ada yang makan.


Dengan setengah bercanda saya katakan, "masak ayahnya tidak jadi pulang semua tenang tenang saja, tapi begitu Chiko yang tidak pulang malah semua menangisi ?".


Kompak mereka menjawab, "Ayah kan masih bisa nelpon dan WA an".


"Ya sudah, nanti kalau Chiko keluar rumah lagi suruh bawa HP, biar kalau tidak bisa pulang bisa nelpon atau kirim pesan", jawab saya sekenanya. Masak saya harus dibuat cemburu oleh kucing?


Padahal mungkin Chiko hanya sedang tergoda oleh kucing pejantan sehingga ikut kelayapan dan lupa untuk pulang.

Komentar

  1. Alhamddulillah malam tadi chiko pulang, dan disambut oleh mbak dan adek bitha.

    BalasHapus

Posting Komentar