Beberapa hari yang lalu dengan agak semangat, mengompori kawan kawan untuk ikut kegiatan donor darah, kebetulan bersamaan dengan momen peringatan Bulan K3, pihat panitia di tempat kerja mengisinya dengan salah satu kegiatan berupa donor darah.
Walaupun sebenarnya agak sedikit gugup karena ini untuk pertama kalinya, tapi demi suksesnya acara, juga agar kawan yang lain bersedia untuk berpartisipasi, maka saya bersedia menuliskan nama di urutan pertama sebagi orang yang bersedia untuk berdonor.
Walaupun agak degdegan, tapi sebenarnya sama sekali tidak ada rasa terpaksa di dalam hati, justru muncul sedikit rasa bangga, karena berdonor menjadi salah satu cita cita sejak usia remaja, tapi karena keadaan, baru kali ini akan terlaksana.
Pada masa masa sekolah dulu, juga awal awal memasuki dunia kerja, ketika berat badan tidak pernah lebih dari 48 kilogram, ketika kepala sering "kliyengan" dan berkunang kunang setiap kali bangkit dari posisi duduk, rasanya tidak mempunyai kepercayaan diri untuk mendaftar diri sebagai pendonor.
Tapi justru yang jadi sesalan, ketika kondisi badan sudah mulai mapan, niatan untuk menjadi pendonor itu menjadi seolah terlupakan, tertutup oleh alasan yang sebenarnya hanya mengada ada, yakni kesibukan dan susahnya mendapatkan kesempatan.
Karena itulah kesempatan kali ini, ketika tim dari PMI datang langsung ke tempat kerja, kesempatan untuk berdonor tidak boleh dilewatkan lagi.
Tibalah hari H pelaksanaan kegiatan donornya, selesai upacara peringatan bulan K3, dilakukan sceening untuk para calon pendonor, cek tekanan darah, golongan darah dan kandungan hemoglobinya, dan hasil screeningnya ternyata membuat kecewa, tekanan darahnya terlalu tinggi, sehingga tidak diizinkan untuk jadi pendonor.
Terbersit keinginan untuk mencoba donor lagi di lain kesempatan, tapi sepertinya kesempatan itu akan sulit untuk datang lagi mengingat belakangan ini tekanan darah mulai cenderung tinggi, dan sepertinya agak sulit untuk kembali normal seperti sebelumnya seiring bertambahnya usia.
Jika pengalaman "batal donor" ini dimaknai sebagai hilangnya kesempatan untuk melakukan suatu kebaikan karena menunda nunda kesempatan, maka sebenarnya pengalaman "batal donor" kali ini bukanlah pengalaman yang pertama, tapi pengalaman yang kesekiankalinya, bahkan mungkin pengalaman yang kesekianratuskalinya. Tapi dengan kasus yang berbeda beda.
Contoh kasus lainnya adalah keinginan untuk berderma kepada salah seorang disabilitas yang sukarela memperbaiki jalan rusak di salah satu spot yang dilalui pada saat pulang kerja, tapi karena saat itu pulangnya sudah kesorean, apalagi kesempatan pulang hanya bisa didapat setiap dua minggu sekali, diamana rasa rindu pada keluarga sudah menggebu di dalam dada, akhirnya keinginan untuk berderma ditunda sampai dua minggu berikutnya lagi.
Tapi apa yang terjadi, pada dua minggu berikutnya lagi, karena pengaruh cuaca, rute itu sudah tidak mungkin dilalui lagi, sehingga niat untuk berderma tidak mungkin terlaksana, padahal seandainya saat itu keinginan untuk berderma langsung dilaksanakan, paling hanya menyita waktu sekian menit saja, dan niat itu tidak akan menjadi sia sia.
Seringkali Tuhan menunjukkan kasih sayangnya pada kita dengan menerbitkan didalam hati kita untuk melakukan suatu kebaikan, tapi kita malah mengabaikannya dengan menunda nunda dan akhir kebaikan itu tidak jadi dilaksanakan.
Itulah mungkin rahasianya kenapa "Kanjeng Nabi" menganjurkan agar setiap keinginan untuk berbuat kebaikan agar segera mungkin dilaksanakan, karena jika ditunda, setan akan membisikkan berbagai macam alasan agar keinginan itu tidak jadi terlaksana.
Jika benar testimoni orang orang, bahwa dengan berdonor tubuh akan menjadi lebih sehat, dimana peredaran darah akan menjadi lebih lancar, dimana darah dalam tubuh melakukan regenerasi dengan melahirkan darah baru yang lebih segar untuk menggantikan darah lama yang didonorkan, dimana pusing pusing tidak lagi dikeluhkan, maka sebenarnya berdonor adalah melakukan kebaikan untuk diri sendiri.
Begitu juga dengan kebaikan kebaikan lainya, sebagaimana yang sudah "didawuhkan", "Jika kamu melakukan kebaikan, maka pada hakikatnya, kamu melakukanya untuk dirimu sendiri". Jika yang menikmatinya adalah diri kita sendiri, maka untuk apa ditunda tunda lagi.
Komentar
Posting Komentar